Kelebihan dan Kelemahan Timnas Garuda U-19 Racikan Indra Safri

RUMAHPINTAR.ASIA - Saat ini, Timnas Garuda U-19 sedang berlaga di Turnamen Toulon melawan tim sepakbola dari negara-negara maju. Meski baru pertama kali mengikuti turnamen bergengsi ini, Indonesia  berharap bisa menyandingkan diri bersama tim-tim lain. Sebagai tim undangan, Indonesia tergabung dalam grup C bersama Brasil, Cheko, dan Skotlandia.

Turnamen yang bernama resmi Festival Espoirs de Toulon ini diselenggarakan sejak tahun 1967 dan  diikuti 12 negara. Bagi Indonesia, turnamen ini merupakan tahap pemanasan sebelum ikut berlaga di piala AFF september mendatang. Walaupun demikian, timnas Garuda percaya diri untuk menampilkan permainan terbaik di setiap laga.

Yang menarik adalah dalam pertandingan kontra Timnas Brasil, anak-anak asuhan Indra Safri menunjukkan performa luar biasa. Permainan dari kaki ke kaki mewarnai gaya permainan timnas Garuda. Ada kemiripan dengan tiki-taka ala Barcelona.

Merujuk dari gaya kepelatihan Indra Safri, tentu kita teringat dengan racikan beliau di kala mengantarkan timnas U-19 era Evan Dimas dkk menundukkan timnas Korea Selatan beberapa tahun silam. Penguasaan bola anak-anak Indonesia benar-benar luar biasa. Dan Publik Nusantara saat itu optimis dengan kejayaan timnas Indonesia dalam waktu tidak terlalu lama.

Sempat tersandung masalah pembekuan organisasi, PSSI kemudian sempat mati suri beberapa tahun sebelum kembali diaktifkan tahun 2016. Setelah itu, Liga Super Indonesia yang kini berganti nama menjadi Liga 1 berhasil digelar kembali, diikuti dengan terbukanya peluang timnas-timnas muda dan senior berlaga di kancah Internasional.

Termasuk turnamen yang kini sedang diikuti oleh garuda muda U-19. Di bawah asuhan Indra Safri, gaya dan motivasi bermain Rifad Marasabessy dkk kembali diwarnai dengan permainan cantik ala tiki-taka. Bahkan dalam laga melawan Brasil, meski kalah satu gol, publik sepakbola tanah air mengapresiasi permainan mereka. 


Gaya bermain ala umpan jarak jauh, adu kecepatan lari, dan cepat kehilangan bola adalah ciri khas timnas garuda masa lalu yang harus ditinggalkan. Dan hanya Indra Safri lah yang dapat merevolusi permainan timnas Indonesia ke arah sepak bola modern.

Secara mendasar, kelebihan dari timnas garuda U-19 racikan Indra Safri terletak pada proses membangun serangan. Mulai dari Kiper hingga menuju area penalti lawan, bola dialirkan dari kaki ke kaki melalui umpan-umpan pendek, cepat, dan akurat. Selain itu, mereka sangat agresif menutup aliran bola dari lawan dan pandai mengambil posisi saat kehilangan bola.

Yah, setidaknya dengan gaya bermain seperti itu, publik sepakbola tanah air punya harapan besar terhadap kemajuan sepak bola Indonesia di kancah Internasional. Kelak, jam terbang akan mengasah anak-anak Indra Safri tersebut menjadi lebih matang dan memiliki kelas setara pemain-pemain hebat dunia seperti Messi atau Cristiano Ronaldo.

Terlepas dari kelebihan tersebut, saya melihat masih ada kelemahan yang perlu dibenahi. Meskipun beberapa kali memperoleh kesempatan emas di area penalti lawan, garuda muda terlihat belum garang menjebloskan bola ke gawang. Tendangan mereka masih sering melenceng atau mudah ditebak oleh kiper lawan.

Menyikapi kelemahan ini, demi permainan yang lebih sempurna, selain mematangkan proses membangun serangan, Indra Safri perlu melakukan training tambahan, misalnya dengan meningkatkan kemampuan menendang anak-anak asuhnya di dekat gawang dalam kondisi terkepung defender-defender kuat. Selain itu, jika melawan tim bertahan, garuda muda perlu diberi latihan khusus menendang jarak jauh yang terarah dan keras layaknya timnas U-19 era Evan Dimas.

Yah, semua hal memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk timnas Indonesia. Namun, semoga timnas U-19 racikan Indra Safri ini jauh lebih baik dan bisa mengharumkan nama Indonesia dalam kasta sepakbola dunia. Mari terus dukung perjuangan mereka!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kelebihan dan Kelemahan Timnas Garuda U-19 Racikan Indra Safri"

Post a Comment

Silahkan berkomentar dengan bijak sesuai norma-norma dan kebijakan dari Google

Note: only a member of this blog may post a comment.