Memetik Pelajaran dari Gempa Pidie Jaya, Aceh : Semoga Tidak Terulang!

RUMAHPINTAR - Gempa berkekuatan 6,5 skala richter yang baru saja melanda Pidie Jaya, Aceh  (7/12/2016) mengejutkan semua pihak, khususnya warga setempat. Selain karena datangnya di waktu subuh, pukul 05.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), tidak ada peringatan dini dan himbauan evakuasi dari pihak terkait sebelumnya. Akibatnya, sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah dan korban-korban pun berjatuhan. Hingga tulisan ini dipublish, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatatkan jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 94 orang, 128 luka berat, 489 luka ringan. Sementara itu, juga disebutkan bahwa akibat gempa tersebut, 161 rumah rusak berat dan 105 ruko di Pidie Jaya serta bangunan publik lain, seperti 14 masjid, 1 sekolah dan 1 fasilitas kesehatan terkena dampak yang sama. (Sumber)

Pada saat kejadian, para warga berhamburan keluar rumah dan berkumpul di jalan raya dan tempat terbuka lainnya. Sementara itu, sebuah foto dokumentasi menunjukkan sejumlah jemaah sholat subuh tetap bertahan menjalankan ibadah di tengah reruntuhan mesjid. Selain itu, sebagian yang lain diyakini banyak masih terjebak di tengah-tengah reruntuhan.

Evakuasi yang dilakukan sesaat setelah kejadian pun cukup menantang. Selain karena lokasi kejadian masih diwarnai gempa susulan yang berskala kecil, akses jalan menuju tempat peristiwa sulit dilewati alat berat. Hingga Selasa malam (7/12/2016) evakuasi pun semakin sulit berhubung gelap dan listrik padam.
Presiden Jokowi dalam pidatonya meminta agar semua aparat bergerak tanggap sesuai fungsinya masing-masing. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama personel Polri, TNI, dan relawan bersinergi menyisir lokasi reruntuhan dan melakukan evakuasi di tengah mencekamnya situasi Pidie Jaya dan sekitarnya pasca gempa.

Di samping itu masyarakat setempat dihimbau tetap waspada akan segala kemungkinan. Status Pidie Jaya masih darurat tetapi diyakini tidak sampai berdampak tsunami. Sementara itu, pencarian korban terus diupayakan dengan maksimal. Apalagi, perkiraan jumlah korban yang belum ditemukan pun masih banyak. Kendala utama yang dirasakan tim penyelamat yaitu masih sulitnya medan ditembus Excavator. Padahal alat berat ini berguna untuk membersihkan puing-puing bangunan yang mengalami kerusakan. 

Tentu dunia masih memiliki memori atas gempa berkekuatan 9,1 Skala Richter yang berdampak tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Kenangan pahit itu terus membekas, terutama bagi korban-korban yang kehilangan sanak familinya. Dua belas tahun kemudian, tepatnya 7 Desember 2016 tsunami kembali mengguncang Aceh (Pidie Jaya dan sekitarnya). Kedua peristiwa tersebut sama-sama terjadi di akhir tahun. Perbedaannya, gempa 2004 yang dibarengi tsunami jauh lebih dahsyat dibanding gempa 2016. Namun, bagaimana pun ukuran dan status kedaruratannya, gempa tetap saja merupakan bencana alam yang merugikan umat manusia, khususnya penduduk di lokasi kejadian.

Apa Sesungguhnya Penyebab Gempa Pidie Jaya, Aceh?

Dilansir dari Liputan6.com yang melakukan kontak dengan seorang ahli geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman Natawijaya bahwa secara langsung tak ada kaitan antara gempa hari ini dengan bencana katastropik tsunami Aceh 2004 yang menewaskan lebih dari 200 ribu orang.

Danny mengatakan bahwa gempa 6,5 SR hari ini bersumber dari sesar darat yang menuju ke laut. Sesar adalah rekahan besar atau patahan yang membelah permukaan Bumi. Ada yang besar atau kecil, cepat dan pelan. Yang terjadi di Aceh (7/12) tergolong sesar lokal karena tidak begitu besar dan gempa tidak terjadi terlalu cepat. 

Apa Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kejadian ini?

Jika ada bencana yang menimpa umat manusia di suatu tempat, di saat bersamaan refleksi diri dan evaluasi perlu dilakukan. Refleksi diri berguna untuk merenungi segala perlakuan manusia terhadap bumi. Apakah benar-benar telah sesuai dengan kodrat alam atau tidak? Apakah selama ini telah benar-benar meyakini kebesaran Allah? Apakah tidak ada kemungkaran yang tidak terkendali dan melebihi batas? Andai tidak ada yang salah, maka bencana alam, seperti yang menimpa Aceh (7/12) murni ujian dan cobaan dari Allah SWT. Tentu saja, sang Maha Pencipta memiliki maksud. Semoga para korban dan keluarga yang selamat diberi ketabahan. 

Selanjutnya, pasca bencana perlu dilakukan evaluasi, khususnya bagi Pemerintah yang diwakili pihak-pihak berwenang. Aceh yang telah diketahui memiliki sejumlah titik gempa, sama dengan perlakuan untuk wilayah lain di Indonesia, mesti mendapat perhatian khusus. Setidaknya harus ada tindakan nyata bagaimana mendeteksi kemungkinan-kemungkinan gempa sebelum benar-benar kejadian agar para penduduk setempat dapat diperingati dan dievakuasi lebih awal. Jika terus-menerus kecolongan, banyaknya jumlah kerusakan dan korban jiwa sulit dihindari.

Indonesia kini perlu lebih melek lagi bagaimana menghadapi situasi lempeng bumi negeri ini yang dihiasi titik-titik gempa. Jika kekurangannya adalah teknologi, maka pemerintah wajib menjadikan ini sebagai prioritas. Bukan tidak mungkin gempa susulan akan terjadi lagi dan berpotensi menimpa siapa saja. Untuk itu, cepat tanggap melakukan evakuasi pasca gempa perlu dibarengi cepat tanggap melakukan tindakan preventif, salah satunya dengan memiliki alat pendeteksi gempa mutakhir.

Andai teknologi yang dimaksud sudah ada, maka sumber daya manusia yang mengelola perlu diberdayakan. Selain itu, pos-pos penelitian gempa sebaiknya ditempatkan di lokasi-lokasi strategis, khususnya di wilayah yang memiliki potensi gempa.

Negara ini pun bisa belajar banyak pada negara lain yang memiliki pengalaman gempa seperti Jepang. Selain melakukan riset deteksi dan peringatan dini untuk gempa, Indonesia dan Jepang perlu melakukan sinergitas jangka panjang menghadapi kesamaan persoalan yang dihadapi dua negara tersebut. Yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini adalah teknologi peringatan dini terhadap bencana dan teknologi kontruksi bangunan tahan gempa. 

Teknologi Jepang (INA-Donet) yang pernah disebut-sebut oleh Deputi Bidang Geofisika, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Masturyono (21/10/2015 - viva.co.id) sebagai alat canggih pendeteksi gempa dalam 2 menit, dan katanya akan dipasang di selatan Jawa Barat dan sebelah barat Sumatera Selatan, perlu disegerakan dan diterapkan di wilayah-wilayah lain di Pulau Sumatera. Tujuannya agar gempa-gempa berikutnya dapat dideteksi sehingga kerusakan dan korban jiwa dapat dihindari. 

Dengan harapan, semoga bencana gempa yang menimpa Pidie Jaya, Aceh pada hari Rabu (7/12/2016) memberikan pelajaran berharga bagi kita semua, khususnya pihak-pihak berwenang. Tindakan penyelamatan dan recovery pasca gempa adalah baik, tetapi lebih baik lagi jika langkah pencegahan berupa peringatan dini diadakan dan diusahakan sesegera mungkin. Mudah-mudahan kejadian serupa tidak terulang lagi! Kasihan negeri ini. Lihat korban-korban yang tidak tahu apa-apa itu! 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Memetik Pelajaran dari Gempa Pidie Jaya, Aceh : Semoga Tidak Terulang!"

Post a comment

Silahkan berkomentar dengan bijak sesuai norma-norma dan kebijakan dari Google

Note: only a member of this blog may post a comment.